Kurasakan sakit diseluruh tubuhku, dengan
setengah tersadar kucoba membuka mataku. Dan saat itu kulihat sosok berwarna
hitam terlihat sedang menghampiri Lita yang juga jatuh tidak jauh dariku.
Dibawah sinar bulan purnama yang yang cerah terpantul cahaya dari kepala makhluk
itu yang terlihat berwarna putih. Hanya bagian kepalanya saja yang jelas
terlihat berwarna putih sedangkan seluruh tubuhnya berwarna hitam. Dengan
sedikit teliti kuperhatikan bentuk kepala nya seperti helm tapi, “siapakah?
Atau“apakah? yang aku lihat ini” Ukurannya sangat besar jika dibandingkan dengan
manusia tapi kulihat dia juga memiliki kaki dan tangan yang terlihat tidak
begitu jelas. Selain itu tingginya yang bahkan melebihi tinggi manusia normal
membuatku berpikir “apakah sosok itu adalah hantu?”
Pagi
ini aku terbangun karena mimpi buruk dari pengalaman kemah kemarin. Aku selalu
kepikiran dengan hal yang kulihat saat jatuh dari tebing itu, aku selalu
bertanya pada diriku “apakah yang kuluhat itu adalah hantu? Atau hanya halusinasi
yang kupikirkan karena takut saat itu?” tapi saat itu aku merasa hal itu
benar-benar nyata. Ditambah lagi saat aku pingsan aku bermipi berada disebuah
tempat yang seperti tabung, lalu didalamnya tangan dan kakiku dibentangkan dan
dikepalaku dipasangkan sebuah alat
aneh yang menutupi kepalaku. Aku melihat dari
tabung yang dilapisi semacam kaca transparan itu sebuah monitor dan mesin yang
aneh.
“Zha cepetan berangkat sekolah udah mau
telat itu?” teriak ibuku
“iya bu” jawabku kemudian keluar dari
kamar membawa tas sekolahku.
Setelah berpamitan dengan ibuku kukayuh
sepedaku dengan kencang menuju sekolah. Jarak sekolah dengan rumahku tidak
begitu jauh, kurang lebih sekitar 3 KM. Aku beruntung akhirnya sampai disekolah
tepat waktu, setelah kuparkir sepedaku aku langsung bergegas menuju kelas.
“Zha udah belajar biologi?” tanya Rizki
setibanya aku dikelas.
“hah?! Klo’ ngak salah cuma disuruh
ngerjain PR aja” jawabku kaget.
“kan sudah dibilang 3 hari yang lalu
kalo’ ulangan harian biologi hari ini” balas Rizki
Aku panik tidak tau harus
bagaimana, tiba-tiba ulangan biologi dan aku belum ada persiapan sama sekali.
“apa yang akan ku tulis di lembar jawaban nanti?” pikirku gelisah.
Bel sekolah berbunyi, tanda jam
pelajaran pertama dimulai. Seluruh siswa langsung duduk rapi ditempat masing-masing
karena guru yang mengajar di
jam
pertama terkenal sangat disiplin dan galak.
“udah Zha selamat berjuang semoga
selamat” kata Rizki yang langsung menuju mejanya.
Setelah seluruh siswa memberikan salam,
Bu’ Zahra langsung memanggil ketua kelas untuk membagikan lembar soal ulangan
harian. Saat ini aku seperti berada ditengah medan perang yang aku tidak tahu
bahwa disitu tengah terjadi perang.
Tanpa senjata dan persiapan aku harus mampu bertahan hidup dan selamat dari
perang ini. Dengan perasaan gugup dan ketakutan aku
menunggu datangnya soal sambil berdo’a semoga aku bisa menjawab pertanyaan
dengan lancar.
~~~
“Lita kenapa kamu melamun?” tanya pak
guru tiba-tiba. Aku
langsung kaget dan sadar dari lamunanku. Teman-teman yang lain juga langsung melihat kearah Lita.
“ma.. maaf pak” jawab Lita malu.
Sejak kejadian di perkemahan 2 hari yang
lalu Lita selalu memikirkan hal itu. Sesuatu yang Lita lihat saat itu “apakah
itu sesuatu yang nyata?”.
Bel
berbunyi tanda jam pelajaran pertama berakhir
dan istirahat 5 menit sebelum jam pelajaran kedua dimulai.
“Lit
udah siap ulangan?” tanya Dul menghampiriku.
“Insya
Allah siap tadi malam udah Lita pelajari teori relativitas kontraksi lorentz
sama dilatasi waktu.” Jawabku sambil mengeluarkan buku tulis fisika dari tasku.
“Lita udah ngerti yang itu ?” tanya Syifa yang
duduk di sampingku.
“insya
Allah ngerti udah Lita coba ngerjain soal-soal juga semalam.” Jawabku pada
Syifa
“kenapa
kamu melamun tadi Lit? Apa kamu ngak
enak badan?” tanya Syifa tiba-tiba
“oh...
ngak ada apa-apa.” Jawabku langsung dengan gugup
“gimana
bekas luka kemarin itu, udah ngak sakit?” tanya Dul
“Ya
masih agak sakit sih, tapi ngakpapa kok” jawabku.
Lima menit setelah jam pertama berakhir bel
tanda jam pelajaran kedua dimulai, Dul langsung kembali ke mejanya saat pak
guru memasuki kelas. Sepertinya pelajaran kali ini juga Lita masih memikirkan
kejadian saat kemah kemarin. Apa mungkin Lita
terlalu penasaran ya sama yang kulihat waktu itu. Tapi menurut Lita itu sudah
pasti Alien. Tapi... masak makhluk kayak gitu bener-bener ada ya?
“hmmm...”
keluhku sambil menghembuskan napas panjang.
“Lita,
kamu kenapa ?” tiba-tiba tanya pak guru
“oh
gakpapa pak” jawabku
~~~
Akhirnya pelajaran kewarganegaraan yang membuatku
sedikit bosan berakhir, jam istirahat selama 20 menit membuat siswa-siswi
keluar dari kelas untuk pergi ke kantin atau hanya menyejukkan pikiran.
“Lit
ke kantin yuk” ajak syifa
“iya
yuk lapar nih nanti gk bisa fokus ngerjain soal kalo’ lapar” jawabku
“Eee...
kalian mau kemana? Udah belajar fisika ?” tanya Wati yang terlihat pusing
dengan buku-buku fisika yang bertumpukan di atas mejanya.
“mau
ke kantin, ikut yuk biar fokus nanti ngerjain soalnya” jawab syifa
“Ikut ayo Ti biar kamu ngak stress, istirahat
dulu belajarnya” sindirku pada Wati
“hmm...
iya dah, tunggu dulu
sebentar rapiin buku ini.” Jawab Wati sambil memelototiku
Kami bertiga akhirnya pergi ke kantin
tapi, saat melewati musholla kulihat Dedi,Rizki, dan Ezha yang baru memasuki
gerbang musholla. Tiba-tiba aku teringat dengan hal yang menggangu pikiran ku
dari tadi.
“Fa,
duluan aja sama Wati ke kantin, Lita mau ngomong sama Ezha dulu sebentar”
ucapku lalu meninggalkan mereka berdua.
“cepetan
Lit” kata Wati
~~~
Saat kami baru memasuki musholla
kulihat Lita berlari dan menghampiri kami.
“Lit,
ada apa?” tanya Dedi
“Zha
bisa bicara sebentar” tanya Lita dengan wajah serius menatapku.
“hah… ah... ma-mau ngomong apa ?”
tanya ku gugup,
sambil melirik kearah Dedi dan Rizki.
“Ki
kita wudhu duluan ayo” kata Dedi sambil menarik Rizki meninggalkan kami berdua.
Aku
mengajak Lita untuk duduk di pinggir musholla, kemudian Lita langsung memulai pembicaraan.
“Oh
iya Zha makasih waktu itu nolongin Lita ya” ucapnya membuatku malu dan semakin gugup
“oh
i-iya sa-sama-sama saya
tiba-tiba reflek kemarin waktu lihat Lita jatuh itu, soalnya pas didepan saya
Lita waktu itu” balasku dengan gugup.
“waktu
Ezha jatuh dari tebing itu masih Ezha sadar?” tanya Lita tiba-tiba
“waktu
itu Lita jatuhnya karena kaget
lihat sesuatu kayak hantu di bawah
tebing itu, tapi kayaknya bukan...” jelas
Lita kepadaku.
“tunggu
dulu,” kataku memotong pembicaraan. “ waktu saya sudah jatuh dari tebing itu
juga saya lihat sesuatu mungkin hantu yang Lita maksud itu, tubuhnya warna hitam trus dibagian kepalanya putih tapi, kayak pake
helm gitu rupanya”
“hah?!
Ezha lihat itu beneran? Lita juga lihat
itu trus Lita disemprotin sesuatu sama makhluk itu
makanya Lita pingsan” kata Lita
dengan ekspresi yang terlihat bersemangat.
“tapi
waktu saya lihat itu kepala saya sakit sekali trus pandangan saya juga agak
muter-muter ngak jelas gitu makanya saya kira itu cuma halusinasi aja” jelasku pada Lita
“ tapi waktu itu saya sempat sadar waktu berada di dalam benda
kayak tabung kaca transparan
gitu trus disana saya lihat mesin-mesin aneh, semula saya kira itu mimpi tapi
rasa sakit di kepalaku sama diseluruh tubuhku itu kayaknya bukan mimpi”
“iya
Zha, Lita juga sadar beberapa menit waktu berada di tempat kayak yang Ezha
bilang gitu trus Lita lihat jelas makhluk itu. Sepertinya bukan hantu tapi Alien, yang Lita
lihat waktu itu ada tiga orang trus dia
memasangkan alat aneh gitu di kepalanya Lita, trus Lita pingsan lagi“
“berarti yang kita Lihat
waktu itu Alien??!!!”
kataku kaget
“keren, “ kataku penuh takjub sambil tersenyum
tidak percaya
“hah?!”
ekspresi Lita kaget.
Aku dan Lita terdiam bisu setelah
berbicara panjang lebar tentang hal yang kami lihat waktu itu. Dalam hati aku berkata “sial! Sifat anehku keluar
dihadapan Lita, memalukan sekali”. Aku melirik kewajah manis nya yang terdiam
memikirkan sesuatu yang sulit dia percaya. Entah mengapa dengan pembicaraan selama kurang lebih 5 menit
tadi aku merasa sedikit lebih akrab dengan nya. Lita melihat kearahku menyadari
bahwa sedari tadi aku melihat wajahnya, dan saat itu langsung kupalingkan
wajahku karena malu.
“Lit, dipanggil sama Syifa itu”
“Oh iya maaf ya, Lita pergi dulu. Assalamu’alaikum…”
kata lita kemudian pergi menghampiri temannya.
“Hei! Assalamu’alaikum pak ketua” sapa Azhari dari
belakang yang sepertinya baru keluar dari musholla.
“Apa yang kamu bicarakan berdua sama Lita tadi serius
sekali rupanya?” tanya Azhari sambil menepuk pundakku.
“hmm.. Cuma ngomongin tentang alien” jawabku datar
sambil melepas sepatu.
“Cie…cie… Ezha kamu ngapain sama Lita tadi” sindir
Iqbal yang tiba-tiba datang entah darimana.
Aku mengabaikan mereka berdua dan bergegas mengambil
air wudhu wudhu karena waktu istirahat hampir selesai. Kulihat Rizki menatapku
dengan penuh pertanyaan di matanya.
~~~
Setelah selesai
sholat isya, aku mengerjakan PR kimia yang akan dikumpulkan besok pagi, rupanya
materi minggu lalu tidak terlalu susah, dan mudah dipelajari. Tugas yang di
berikan Bu Maria juga tidak terlalu sulit menurutku. Saat ditengah mengerjakan
soal tiba-tiba HP ku berbunyi.
“PING! PING! PING!”
Segera kuambil Hp ku sambil memikirkan “siapa
kira-kira ini? Jarang sekali aplikasi bbm ini berguna.
Aku begitu kaget saat melihat bahwa itu ternyata dari
Lita, perasaan ku campur aduk karena baru pertama kali ada cewek yang mau chat
sama aku.
Ku beranikan diri untuk bertanya “ada apa?”
Kemudian datang pesan balasan dari Lita “ Zha, kamu
percaya Alien?” “Ezha, yakin kemarin yang kita lihat itu Alien?”
“hmm… sebenarnya kurang yakin sih, tapi setelah tadi
Lita bilang lihat makhluk itu juga saya jadi semakin percaya.” Mungkin aja itu
benar Alien.” Balasku.
“Setelah kejadian itu Lita tadi merasa aneh waktu
ulangan fisika, tumben sekali Lita bisa inget semua yang lita pelajari, biasa
waktu ulangan entah kenapa Lita lupa rumus-rumus fisika yang Lita udah
pelajari.”
“hmm… iya saya juga tadi waktu pelajaran Matematika,
tumben bisa langsung paham.”
“mungkin alien itu beneran melakukan sesuatu ke otak
kita” jelasku pada Lita
“ tapi kalo’ beneran terjadi gk nanti ada bahaya nya
atau efek sampingnya gitu?’’
“ Iya mungkin, kita dijadikan bahan percobaan gitu
sama alien, trus nanti kita dapet kekutan super gitu ^_^”
“khayalanmu terlalu tinggi Zha -_-“ ” balas Lita.
“Sial! Kenapa aku bisa mengatakan hal memalukan
seperti itu! Mungkin Lita berpikir saya orang aneh sekarang”pikirku dalam hati.
“makasih Zha maaf mengganggu, lanjut dah
belajarnya” tulis Lita ditambah emoticon
smile.
~~~
“Zha sudah lihat jadwal Try Out?” Tanya Dedi padaku
pagi ini.
“belum,” jawabku sambil duduk merapikan banguku. Sudah
seminggu sejak kejadian saat perkemahan OSIS dan kini aku mulai merasa ada
beberapa hal yang berubah padaku.
“Ded, kapan dibagikan hasil ulangan biologi? Tanyaku
penasaran dengan hasil ulanganku.
“ katanya sih hari ini Zha, semoga saya dapet nilai
bagus sekarang” jawab dedi.
“Huh… semoga
saya gk remidi lagi aja” ucapku pasrah
Saat kita sedang berbincang-bincang di kelas sambil
menunggu Bu Zahra, Aisha datang membawa lembaran jawaban biologi kami. Sontak
teman-teman sekelas langsung terlihat heboh, ada beberapa yang wajahnya
berseri-seri dan beberapa terlihat pucat seperti diriku.
“Semuanya tenang dulu! Tenang !” teriak Aisha membuat
kelas yang rebut tadi menjadi sunyi.
“baiklah ada pengumuman dari bu Zahra karena hari ini
beliau berhalangan hadir karena ada acara, maka…”
“yeee….!!!” Belum selesai Aisha berbicara reflek semua
siswa XII Ipa 2 bersorak kegirangan memotong pengumuman penting dari Bu Zahra.
“Diam wee…! Baiklah saya lanjutkan, maka hari ini kita
di kasih tugas untuk mencatat dan mempelajari materi selanjutnya. Dan bagi yang
nilai ulangannya di bawah 50 atau remidi hari ini harus mengerjakan ulang soal
ulangan kemarin, dan soal remidi yang saya bawakan ini.”
Setelah itu Aisha memanggil satu persatu dari kami
untuk maju mengambil hasil ulangan terlihat berbagai macam ekspresi yang
menunjukkan bahagia, sedih, puas, dan kecewa setelah menerima hasil ulangan
biologi.
“Ayu, Ihsan, Ezha,…” teriak Aisha membacakan nama kami
dan membuatku langsung meluncur cepat mengambil lembar jawaban sebelum dilihat
oleh orang lain. Saat aku melihat hasil yang tertulis aku merasa kaget dan
cukup puas dengan kemammpuanku nilai 50 tertulis di lembar jawabanku membuatku
selamat dan nyaris mendapatkan remidi.
“ dapet berapa Zha?” Tanya Rizki datang menghampiri
“Alhamdulillah dapet 50 padahal saya ngak belajar
kemarin, ngak saya remidi jadinya” jawabku bangga.
“Sial penghianat kamu Zha, saya remidi dapet 45.”
Balas Rizki dengan nada kesal.
“ wah, hebat Ezha tumben ngak remidi sekarang, saya
dapet 55” kata Santoso.
“Zha, kamu gk remidi?” Tanya Ihsan mendekatiku dengan
wajah kesal
“iya saya dapet 50” jawabku sambil menunjukkan hasil
ulanganku.
“Sial saya Cuma dapet 25” kata Ihsan sambil meremas lembar
jawabannya.
“Siapa nilai tertinggi?” Tanya Santoso
“sudah pasti Aisha, dia dapet 85” jawab Rizki.
~~~
Bel istirahat berbunyi, seperti biasa saat istirahat
aku selalu ke musholla untuk sholat Dhuha bersama Rizki dan Dedi. Kami bertiga
pergi ke musholla bersama sambil berbincang-bincang dan bercanda. Sesampainya
kami bertiga di Musholla Lita menyapaku dari depan kelasnya dan bergegas menuju
kami bertiga. Jarak kelas Lita dengan musholla tidak terlalu jauh jadi saat
kami di musholla Lita dapat melihat kami dari depan kelasnya.
“Zha, kayaknya bener yang Ezha bilang malam itu
buktinya coba lihat hasil ulangan fisika Lita” jelas Lita sambil memperlihatkan
hasil ulangannya padaku yang tertulis nilai 100 di pojok kanan atas lembar
jawabannya.
Rizki dan Dedi terlihat berusaha mengamati obrolan
kami berdua yang berada dekat gerbang musholla.
“Oh iya, saya juga tadi di bagikan hasil ulangan
biologi tumben saya ngak remidi” balasku dengan semangat.
“berapa nilaimu Zha?” Tanya Lita terlihat penasaran.
“ahh… Cuma 50” jawabku malu.
“hahaha… sama ajak kayak yang dulu. Tapi bener dah
Zha, ada yang aneh sama diriku, tadi aja pas pelajaran trigonometri Lita
langsung paham sama penjelasannya pak xxxxxx trus waktu lita disuruh maju
menjawab tadi Lita langsung benar.” Jelas Lita yang terlihat semakin
bersemangat.
“klo’ gitu baguslah, Alhamdulillah,” balasku. Tapi
dalam hati aku berpikir Lita sepertinya terpengaruh sama perkataan aneh ku.
“Zha! Sholat dulu ayo! Nanti keburu masuk” teriak
Rizki tiba-tiba memotong pembicaraan kami.
“oh iya dh, Lit aku mau pergi wudhu dulu.” Kataku
kemudian pergi meninggalkan Lita
“iya sudah Zha
saya balik dulu, Dedi, Rizki ayo…” kata Lita
“Lit, apa itu?” Tanya Dedi sambil menunjuk kertas yang
dibawa Lita.
“Hmm… ini hasil ulangan fisika Lita” jawab Lita sambil
memperlihatkan lembar jawabannya.
“Hebat Lita, bagus hasilnya” puji Dedi sambil
memberikan jempolnya.
“kalo’ kita kapan ulangan Fisika Ki?” Tanya Dedi sambil melirik ke Rizki.
“kalo’ kita kapan ulangan Fisika Ki?” Tanya Dedi sambil melirik ke Rizki.
“ngak tau saya” jawab Rizki tak peduli.
“Iya dah Lita balik ke kelas dulu, Assalamu’alaikum…”
Lita berpamitan meninggalkan Dedi dan Rizki di musholla.
“Wa’alaikummussalam…” jawab Dedi dan Rizki
Aku datang menghampiri mereka berdua setelah selesai
wudhu “ hee… cemburu ya” ledekku.
“wah… ngak usah gitu Zha sukanya nikung teman sendiri
Ezha ini” kata Dedi bercanda.
“bukan nikung itu Zha, kamu nusuk saya dari belakang
itu” ucap Rizki Kesal.
“tenang Ki kamu juga tadi disapa sama Lita” kata Dedi
menenangkan.
“Tapi kayaknya masih dia kurang suka sama saya, sama
kamu aja dia ngomong tadi itu Ded kesel saya …”
“Tet…!!! Tet…!!! Tet…!!!” Bel tanda waktu istirahat
berakhir kami bertiga bergegas sholat dhuha sebelum guru mata pelajaran
selanjutnya masuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar