Rabu, 01 November 2017

Chapter 2 “Sebuah Keanehan Yang Mulai Terlihat”

             Kurasakan sakit diseluruh tubuhku, dengan setengah tersadar kucoba membuka mataku. Dan saat itu kulihat sosok berwarna hitam terlihat sedang menghampiri Lita yang juga jatuh tidak jauh dariku. Dibawah sinar bulan purnama yang yang cerah terpantul cahaya dari kepala makhluk itu yang terlihat berwarna putih. Hanya bagian kepalanya saja yang jelas terlihat berwarna putih sedangkan seluruh tubuhnya berwarna hitam. Dengan sedikit teliti kuperhatikan bentuk kepala nya seperti helm tapi, “siapakah? Atau“apakah? yang aku lihat ini” Ukurannya sangat besar jika dibandingkan dengan manusia tapi kulihat dia juga memiliki kaki dan tangan yang terlihat tidak begitu jelas. Selain itu tingginya yang bahkan melebihi tinggi manusia normal membuatku berpikir “apakah sosok itu adalah hantu?”
            Pagi ini aku terbangun karena mimpi buruk dari pengalaman kemah kemarin. Aku selalu kepikiran dengan hal yang kulihat saat jatuh dari tebing itu, aku selalu bertanya pada diriku “apakah yang kuluhat itu adalah hantu? Atau hanya halusinasi yang kupikirkan karena takut saat itu?” tapi saat itu aku merasa hal itu benar-benar nyata. Ditambah lagi saat aku pingsan aku bermipi berada disebuah tempat yang seperti tabung, lalu didalamnya tangan dan kakiku dibentangkan dan dikepalaku dipasangkan sebuah alat aneh yang menutupi kepalaku. Aku melihat dari tabung yang dilapisi semacam kaca transparan itu sebuah monitor dan mesin yang aneh.
“Zha cepetan berangkat sekolah udah mau telat itu?” teriak ibuku
“iya bu” jawabku kemudian keluar dari kamar membawa tas sekolahku.
Setelah berpamitan dengan ibuku kukayuh sepedaku dengan kencang menuju sekolah. Jarak sekolah dengan rumahku tidak begitu jauh, kurang lebih sekitar 3 KM. Aku beruntung akhirnya sampai disekolah tepat waktu, setelah kuparkir sepedaku aku langsung bergegas menuju kelas.
“Zha udah belajar biologi?” tanya Rizki setibanya aku dikelas.
“hah?! Klo’ ngak salah cuma disuruh ngerjain PR aja” jawabku kaget.
“kan sudah dibilang 3 hari yang lalu kalo’ ulangan harian biologi hari ini” balas Rizki
Aku panik tidak tau harus bagaimana, tiba-tiba ulangan biologi dan aku belum ada persiapan sama sekali. “apa yang akan ku tulis di lembar jawaban nanti?” pikirku gelisah.
Bel sekolah berbunyi, tanda jam pelajaran pertama dimulai. Seluruh siswa langsung duduk rapi ditempat masing-masing karena guru yang mengajar di jam pertama terkenal sangat disiplin dan galak.
“udah Zha selamat berjuang semoga selamat” kata Rizki yang langsung menuju mejanya.
Setelah seluruh siswa memberikan salam, Bu’ Zahra langsung memanggil ketua kelas untuk membagikan lembar soal ulangan harian. Saat ini aku seperti berada ditengah medan perang yang aku tidak tahu bahwa disitu tengah terjadi perang. Tanpa senjata dan persiapan aku harus mampu bertahan hidup dan selamat dari perang ini. Dengan perasaan gugup dan ketakutan aku menunggu datangnya soal sambil berdo’a semoga aku bisa menjawab pertanyaan dengan lancar.
~~~
“Lita kenapa kamu melamun?” tanya pak guru tiba-tiba. Aku langsung kaget dan sadar dari lamunanku. Teman-teman yang  lain juga langsung melihat kearah Lita.
“ma.. maaf pak” jawab Lita malu.
Sejak kejadian di perkemahan 2 hari yang lalu Lita selalu memikirkan hal itu. Sesuatu yang Lita lihat saat itu “apakah itu sesuatu yang nyata?”.
Bel berbunyi tanda jam pelajaran pertama berakhir dan istirahat 5 menit sebelum jam pelajaran kedua dimulai.
“Lit udah siap ulangan?” tanya Dul menghampiriku.
“Insya Allah siap tadi malam udah Lita pelajari teori relativitas kontraksi lorentz sama dilatasi waktu.” Jawabku sambil mengeluarkan buku tulis fisika dari tasku.
“Lita  udah ngerti yang itu ?” tanya Syifa yang duduk di sampingku.
“insya Allah ngerti udah Lita coba ngerjain soal-soal juga semalam.” Jawabku pada Syifa
“kenapa kamu melamun tadi  Lit? Apa kamu ngak enak badan?” tanya Syifa tiba-tiba
“oh... ngak ada apa-apa.” Jawabku langsung dengan gugup
“gimana bekas luka kemarin itu, udah ngak sakit?” tanya Dul
“Ya masih agak sakit sih, tapi ngakpapa kok” jawabku.
Lima menit setelah jam pertama berakhir bel tanda jam pelajaran kedua dimulai, Dul langsung kembali ke mejanya saat pak guru memasuki kelas. Sepertinya pelajaran kali ini juga Lita masih memikirkan kejadian saat kemah kemarin. Apa mungkin Lita terlalu penasaran ya sama yang kulihat waktu itu. Tapi menurut Lita itu sudah pasti Alien. Tapi... masak makhluk kayak gitu bener-bener ada ya?
“hmmm...” keluhku sambil menghembuskan napas panjang.
“Lita, kamu kenapa ?” tiba-tiba tanya pak guru
“oh gakpapa pak” jawabku

~~~
Akhirnya pelajaran kewarganegaraan yang membuatku sedikit bosan berakhir, jam istirahat selama 20 menit membuat siswa-siswi keluar dari kelas untuk pergi ke kantin atau hanya menyejukkan pikiran.
“Lit ke kantin yuk” ajak syifa
“iya yuk lapar nih nanti gk bisa fokus ngerjain soal kalo’ lapar” jawabku
“Eee... kalian mau kemana? Udah belajar fisika ?” tanya Wati yang terlihat pusing dengan buku-buku fisika yang bertumpukan di atas mejanya.
“mau ke kantin, ikut yuk biar fokus nanti ngerjain soalnya” jawab syifa
 “Ikut ayo Ti biar kamu ngak stress, istirahat dulu belajarnya” sindirku pada Wati
“hmm... iya dah, tunggu dulu sebentar rapiin buku ini.” Jawab Wati sambil memelototiku

Kami bertiga akhirnya pergi ke kantin tapi, saat melewati musholla kulihat Dedi,Rizki, dan Ezha yang baru memasuki gerbang musholla. Tiba-tiba aku teringat dengan hal yang menggangu pikiran ku dari tadi.
“Fa, duluan aja sama Wati ke kantin, Lita mau ngomong sama Ezha dulu sebentar” ucapku lalu meninggalkan mereka berdua.
“cepetan Lit” kata Wati
~~~
            Saat kami baru memasuki musholla kulihat Lita berlari dan menghampiri kami.
“Lit, ada apa?” tanya Dedi
“Zha bisa bicara sebentar” tanya Lita dengan wajah serius menatapku.
“hah… ah... ma-mau ngomong apa ?” tanya ku gugup, sambil melirik kearah Dedi dan Rizki.
“Ki kita wudhu duluan ayo” kata Dedi sambil menarik Rizki meninggalkan kami berdua.
Aku mengajak Lita untuk duduk di pinggir musholla, kemudian Lita langsung memulai pembicaraan.
“Oh iya Zha makasih waktu itu nolongin Lita ya” ucapnya membuatku malu dan semakin gugup
“oh i-iya sa-sama-sama saya tiba-tiba reflek kemarin waktu lihat Lita jatuh itu, soalnya pas didepan saya Lita waktu itu” balasku dengan gugup.
“waktu Ezha jatuh dari tebing itu masih Ezha sadar?” tanya Lita tiba-tiba
“waktu itu Lita jatuhnya karena kaget lihat sesuatu kayak hantu di bawah tebing itu, tapi kayaknya bukan...” jelas Lita kepadaku.
“tunggu dulu,” kataku memotong pembicaraan. “ waktu saya sudah jatuh dari tebing itu juga saya lihat sesuatu mungkin hantu yang Lita maksud itu, tubuhnya warna hitam trus dibagian kepalanya putih tapi, kayak pake helm gitu rupanya
“hah?! Ezha lihat itu beneran? Lita juga lihat itu trus Lita disemprotin sesuatu sama makhluk itu makanya Lita pingsan” kata Lita dengan ekspresi yang terlihat bersemangat.
“tapi waktu saya lihat itu kepala saya sakit sekali trus pandangan saya juga agak muter-muter ngak jelas gitu makanya saya kira itu cuma halusinasi aja” jelasku pada Lita
 “ tapi waktu itu saya sempat sadar waktu berada di dalam benda kayak tabung kaca transparan gitu trus disana saya lihat mesin-mesin aneh, semula saya kira itu mimpi tapi rasa sakit di kepalaku sama diseluruh tubuhku itu kayaknya bukan mimpi”
“iya Zha, Lita juga sadar beberapa menit waktu berada di tempat kayak yang Ezha bilang gitu trus Lita lihat jelas makhluk itu. Sepertinya bukan hantu tapi Alien, yang Lita lihat waktu itu ada tiga orang trus dia memasangkan alat aneh gitu di kepalanya Lita, trus Lita pingsan lagi
berarti yang kita Lihat waktu itu Alien??!!!” kataku kaget
“keren, “ kataku penuh takjub sambil tersenyum tidak percaya
“hah?!” ekspresi Lita kaget.
Aku dan Lita terdiam bisu setelah berbicara panjang lebar tentang hal yang kami lihat waktu itu. Dalam hati aku berkata “sial! Sifat anehku keluar dihadapan Lita, memalukan sekali”.  Aku melirik kewajah manis nya yang terdiam memikirkan sesuatu yang sulit dia percaya. Entah mengapa dengan pembicaraan selama kurang lebih 5 menit tadi aku merasa sedikit lebih akrab dengan nya. Lita melihat kearahku menyadari bahwa sedari tadi aku melihat wajahnya, dan saat itu langsung kupalingkan wajahku karena malu.
“Lit, dipanggil sama Syifa itu”
“Oh iya maaf ya, Lita pergi dulu. Assalamu’alaikum…” kata lita kemudian pergi menghampiri temannya.

“Hei! Assalamu’alaikum pak ketua” sapa Azhari dari belakang yang sepertinya baru keluar dari musholla.
“Apa yang kamu bicarakan berdua sama Lita tadi serius sekali rupanya?” tanya Azhari sambil menepuk pundakku.
“hmm.. Cuma ngomongin tentang alien” jawabku datar sambil melepas sepatu.
“Cie…cie… Ezha kamu ngapain sama Lita tadi” sindir Iqbal yang tiba-tiba datang entah darimana.
Aku mengabaikan mereka berdua dan bergegas mengambil air wudhu wudhu karena waktu istirahat hampir selesai. Kulihat Rizki menatapku dengan penuh pertanyaan di matanya.

~~~
Setelah selesai sholat isya, aku mengerjakan PR kimia yang akan dikumpulkan besok pagi, rupanya materi minggu lalu tidak terlalu susah, dan mudah dipelajari. Tugas yang di berikan Bu Maria juga tidak terlalu sulit menurutku. Saat ditengah mengerjakan soal tiba-tiba HP ku berbunyi.
“PING! PING! PING!”
Segera kuambil Hp ku sambil memikirkan “siapa kira-kira ini? Jarang sekali aplikasi bbm ini berguna.
Aku begitu kaget saat melihat bahwa itu ternyata dari Lita, perasaan ku campur aduk karena baru pertama kali ada cewek yang mau chat sama aku.
Ku beranikan diri untuk bertanya “ada apa?”
Kemudian datang pesan balasan dari Lita “ Zha, kamu percaya Alien?” “Ezha, yakin kemarin yang kita lihat itu Alien?”
“hmm… sebenarnya kurang yakin sih, tapi setelah tadi Lita bilang lihat makhluk itu juga saya jadi semakin percaya.” Mungkin aja itu benar Alien.” Balasku.
“Setelah kejadian itu Lita tadi merasa aneh waktu ulangan fisika, tumben sekali Lita bisa inget semua yang lita pelajari, biasa waktu ulangan entah kenapa Lita lupa rumus-rumus fisika yang Lita udah pelajari.”
“hmm… iya saya juga tadi waktu pelajaran Matematika, tumben bisa langsung paham.”
“mungkin alien itu beneran melakukan sesuatu ke otak kita” jelasku pada Lita
“ tapi kalo’ beneran terjadi gk nanti ada bahaya nya atau efek sampingnya gitu?’’
“ Iya mungkin, kita dijadikan bahan percobaan gitu sama alien, trus nanti kita dapet kekutan super gitu ^_^”
“khayalanmu terlalu tinggi Zha -_-“ ” balas Lita.
“Sial! Kenapa aku bisa mengatakan hal memalukan seperti itu! Mungkin Lita berpikir saya orang aneh sekarang”pikirku dalam hati.
“makasih Zha maaf mengganggu, lanjut dah belajarnya”  tulis Lita ditambah emoticon smile.

~~~
“Zha sudah lihat jadwal Try Out?” Tanya Dedi padaku pagi ini.
“belum,” jawabku sambil duduk merapikan banguku. Sudah seminggu sejak kejadian saat perkemahan OSIS dan kini aku mulai merasa ada beberapa hal yang berubah padaku.
“Ded, kapan dibagikan hasil ulangan biologi? Tanyaku penasaran dengan hasil ulanganku.
“ katanya sih hari ini Zha, semoga saya dapet nilai bagus sekarang” jawab dedi.
“Huh…  semoga saya gk remidi lagi aja” ucapku pasrah
Saat kita sedang berbincang-bincang di kelas sambil menunggu Bu Zahra, Aisha datang membawa lembaran jawaban biologi kami. Sontak teman-teman sekelas langsung terlihat heboh, ada beberapa yang wajahnya berseri-seri dan beberapa terlihat pucat seperti diriku.
“Semuanya tenang dulu! Tenang !” teriak Aisha membuat kelas yang rebut tadi menjadi sunyi.
“baiklah ada pengumuman dari bu Zahra karena hari ini beliau berhalangan hadir karena ada acara, maka…”
“yeee….!!!” Belum selesai Aisha berbicara reflek semua siswa XII Ipa 2 bersorak kegirangan memotong pengumuman penting dari Bu Zahra.
“Diam wee…! Baiklah saya lanjutkan, maka hari ini kita di kasih tugas untuk mencatat dan mempelajari materi selanjutnya. Dan bagi yang nilai ulangannya di bawah 50 atau remidi hari ini harus mengerjakan ulang soal ulangan kemarin, dan soal remidi yang saya bawakan ini.”
Setelah itu Aisha memanggil satu persatu dari kami untuk maju mengambil hasil ulangan terlihat berbagai macam ekspresi yang menunjukkan bahagia, sedih, puas, dan kecewa setelah menerima hasil ulangan biologi.
“Ayu, Ihsan, Ezha,…” teriak Aisha membacakan nama kami dan membuatku langsung meluncur cepat mengambil lembar jawaban sebelum dilihat oleh orang lain. Saat aku melihat hasil yang tertulis aku merasa kaget dan cukup puas dengan kemammpuanku nilai 50 tertulis di lembar jawabanku membuatku selamat dan nyaris mendapatkan remidi.
“ dapet berapa Zha?” Tanya Rizki datang menghampiri
“Alhamdulillah dapet 50 padahal saya ngak belajar kemarin, ngak saya remidi jadinya” jawabku bangga.
“Sial penghianat kamu Zha, saya remidi dapet 45.” Balas Rizki dengan nada kesal.
“ wah, hebat Ezha tumben ngak remidi sekarang, saya dapet 55” kata Santoso.
“Zha, kamu gk remidi?” Tanya Ihsan mendekatiku dengan wajah kesal
“iya saya dapet 50” jawabku sambil menunjukkan hasil ulanganku.
“Sial saya Cuma dapet 25” kata Ihsan sambil meremas lembar jawabannya.
“Siapa nilai tertinggi?” Tanya Santoso
“sudah pasti Aisha, dia dapet 85” jawab Rizki.

~~~
Bel istirahat berbunyi, seperti biasa saat istirahat aku selalu ke musholla untuk sholat Dhuha bersama Rizki dan Dedi. Kami bertiga pergi ke musholla bersama sambil berbincang-bincang dan bercanda. Sesampainya kami bertiga di Musholla Lita menyapaku dari depan kelasnya dan bergegas menuju kami bertiga. Jarak kelas Lita dengan musholla tidak terlalu jauh jadi saat kami di musholla Lita dapat melihat kami dari depan kelasnya.
“Zha, kayaknya bener yang Ezha bilang malam itu buktinya coba lihat hasil ulangan fisika Lita” jelas Lita sambil memperlihatkan hasil ulangannya padaku yang tertulis nilai 100 di pojok kanan atas lembar jawabannya.
Rizki dan Dedi terlihat berusaha mengamati obrolan kami berdua yang berada dekat gerbang musholla.
“Oh iya, saya juga tadi di bagikan hasil ulangan biologi tumben saya ngak remidi” balasku dengan semangat.
“berapa nilaimu Zha?” Tanya Lita terlihat penasaran.
“ahh… Cuma 50” jawabku malu.
“hahaha… sama ajak kayak yang dulu. Tapi bener dah Zha, ada yang aneh sama diriku, tadi aja pas pelajaran trigonometri Lita langsung paham sama penjelasannya pak xxxxxx trus waktu lita disuruh maju menjawab tadi Lita langsung benar.” Jelas Lita yang terlihat semakin bersemangat.
“klo’ gitu baguslah, Alhamdulillah,” balasku. Tapi dalam hati aku berpikir Lita sepertinya terpengaruh sama perkataan aneh ku.
“Zha! Sholat dulu ayo! Nanti keburu masuk” teriak Rizki tiba-tiba memotong pembicaraan kami.
“oh iya dh, Lit aku mau pergi wudhu dulu.” Kataku kemudian pergi meninggalkan Lita
“iya sudah  Zha saya balik dulu, Dedi, Rizki ayo…” kata Lita
“Lit, apa itu?” Tanya Dedi sambil menunjuk kertas yang dibawa Lita.
“Hmm… ini hasil ulangan fisika Lita” jawab Lita sambil memperlihatkan lembar jawabannya.
“Hebat Lita, bagus hasilnya” puji Dedi sambil memberikan jempolnya.
“kalo’ kita kapan ulangan Fisika Ki?” Tanya Dedi sambil melirik ke Rizki.
“ngak tau saya” jawab Rizki tak peduli.
“Iya dah Lita balik ke kelas dulu, Assalamu’alaikum…” Lita berpamitan meninggalkan Dedi dan Rizki di musholla.
“Wa’alaikummussalam…” jawab Dedi dan Rizki
Aku datang menghampiri mereka berdua setelah selesai wudhu “ hee… cemburu ya” ledekku.
“wah… ngak usah gitu Zha sukanya nikung teman sendiri Ezha ini” kata Dedi bercanda.
“bukan nikung itu Zha, kamu nusuk saya dari belakang itu” ucap Rizki Kesal.
“tenang Ki kamu juga tadi disapa sama Lita” kata Dedi menenangkan.
“Tapi kayaknya masih dia kurang suka sama saya, sama kamu aja dia ngomong tadi itu Ded kesel saya …”

“Tet…!!! Tet…!!! Tet…!!!” Bel tanda waktu istirahat berakhir kami bertiga bergegas sholat dhuha sebelum guru mata pelajaran selanjutnya masuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 2 “Sebuah Keanehan Yang Mulai Terlihat”

             Kurasakan sakit diseluruh tubuhku, dengan setengah tersadar kucoba membuka mataku. Dan saat itu kulihat sosok berwarna hitam t...