Kamis, 26 Oktober 2017

Chapter 1 “Awal dari cerita”

            Dimalam yang dingin diterangi indahnya sinar bulan purnama, aku berbaring menatap langit. Dengan dinginnya udara di pegunungan kami menghangatkan diri dalam letupan api unggun yang membara. Malam ini aku dan teman-teman OSIS berkemah di sebuah pegunungan dalam rangka Pembubaran anggota OSIS. Diiringi dengan petikan gitar dan lantunan lagu yang mereka nyanyikan bersama menambah indahnya malam ini. Aku melihat wajah mereka yang penuh kebahagiaan, tertawa bersama sambil menikmati kehangatan dari api unggun yang kami buat.
“Hey... Ezha sendirian aja kamu disini,kenapa ngak gabung sama temen-temen itu?” sapa Abdullah mendekatiku lalu duduk disampingku.  
Aku bangun dan duduk melihat teman-teman yang lain sedang asyik  bernyanyi dan mengobrol. “ngak terasa ya kita sudah kelas 3? Padahal baru kemarin rasanya saya jadi anggota OSIS
“iya Zha, padahal kita sudah akrab sekali. OSIS ini sudah saya anggap kayak keluarga saya, nyaman sekali rasanya saat kita bersama ngumpul kayak gini
“Iya Dul tapi, sekarang kita sudah bukan anggota OSIS lagi. Walaupun kita bukan anggota OSIS lagi semoga kita bisa tetep ngumpul,bercanda kayak gini ya.”
“Iya Zha, semoga aja bisa terus akrab kita semua. Oh iya udah waktunya makan ini ayo bantu yang cewek didapur mungkin sudah selesai masaknya.”  ajak Abdullah padaku.
            Kami berdua berdiri dan pergi menuju tenda dapur untuk membantu menyiapkan makan malam. Disana aku melihat Syifa, Lita dan Puspita sedang menyiapkan sayur dan tempe yang baru selesai dimasaknya pada sebuah piring. Sedangkan Wati dan Yanti menyiapkan teh hangat pada sebuah teko. Nita juga terlihat sedang sibuk mengelap piring dan gelas.
“Gimana ini udah selesai?” tanya Abdullah
“Ini Dul, bawa piringnya dulu bagi dah sama Ezha” ujar Nita menyerahkan piring yang sudah dibersih pada Abdullah.
“sudah pas piringnya ini?” tanyaku menghitung piring yang diserahkan Abdullah.
Mmm... coba hitung lagi kayaknya pas 30 tadi” kata Nita bingung
“iya pas udah ini, langsung angkut dah Zha” kata Abdullah meyakinkan setelah ia menghitung ulang.
            Aku dan Abdullah pergi membawa piring menuju tempat teman-teman berkumpul. Disana mereka terlihat sangat kelaparan menunggu makanan. Teman-teman yang lain langsung ikut membantu tanpa diberi perintah. Kami bersama-sama menyiapkan semuanya dan tak lama kemudian semua makanan sudah tersedia ditempat. Kami duduk saling berhadap-hadapan sambil menunggu Syifa dan puspita menyiapkan air minum dan teh hangat.
“Tunggu dulu, mungkin ada yang mau di sampaikan Pak guru kita sebelum makan” ujar Putra kepada semuanya. “Ayo Pak silahkan” lanjut Abdullah yang duduk di samping Pak Ahmad
“Hemz... baiklah sebelum kita mulai makan mari kita berdo’a dulu” kata Pak Ahmad selaku pembina OSIS. Selain pak Ahmad yang ikut pada acara malam ini, juga ada Pak Kiki dan Pak Rahman yang mendampingi kami.
~~~
            Setelah selesai membereskan bekas makan aku duduk memandang langit bersama teman-teman sambil menghangatkan diri di sekitar api unggun. Dalam hatiku berkata “Subhanallah... serunya malam ini”.
“Zha... lihat apa tu? Ada UFO?” tanya Agi ngawur melihatku tersenyum sendiri.
“Iya, ada itu dia mau kesini kayaknya” jawabku bercanda sambil menunjuk langit.
“Nanti klo’ dia kesini kita ajak dia nyanyi Zha sambil minum kopi.” Kata Agi sambil sambil meminum kopi hangatnya yang terlihat sudah dingin. “Oh iya temenin saya kedapur ayo, kita minta Kopi lagi Zha.” Ajak Agi setelah menghabiskan kopinya dalam satu tegukan.
“Sendirian aja Agi, sana saya ngak mau ngopi.” Jawabku malas sambil masih menatap langit.
“Eee.. ikut ayo sekalian kita minta jajan nanti di cewek-cewek itu, klo’ kamu yang minta pasti dikasih nanti.” Paksa Agi menarik lenganku.
“iya dah, iya…” jawabku terpaksa
            Kami berdua pergi ke tenda dapur disana terdengar suara Lita, Puspita dan Yanti mengobrol sambil merapikan piring dan gelas yang kami gunakan untuk makan malam tadi.
“permisi” ucap kami berdua masuk
“mau kenapa kalian ?” tanya Yanti dengan suara galak melihat kami berdua.
“mau minta Kopi” jawab Agi dengan cepat sambil menunjukkan gelas kosong yang dibawanya.
“saya cuma temenin Agi” jawabku melihat Yanti memelototiku.
“Oh iya Ezha mau minta jajan katanya tadi, tapi dia malu.” ujar Agi melirik jajan yang sedang dimakan Lita dan Puspita.
“kalo’ Agi mau minta aja saya udah kenyang” balasku singkat.
“kan katanya kamu kesini mau minta jajan tadi Zha.” kata Agi memojokkanku
“Oh ini Zha ambil aja” kata Lita menawarkan jajannya padaku
Ayo ambil Zha, jangan malu-malu. kalo’ malu biar saya aja yang ambilkan” ujar Agi sambil mengambil jajan dari Lita.
“Ehh... sebenarnya kamu yang mau minta jajan itu kan” kata Yanti melirik ke Agi.
“Iya dah, Agi ini Ezha yang dikasih dia yang ambil” kata Puspita menarik kembali jajan yang diambil Agi dan menawarkannya padaku “Ini Zha ambil aja, ngak usah malu-malu”
Aku terdiam sejenak dan duduk mengambil jajan yang ditawarkan Puspita  “Oh iya dah, makasih”
“Ini Gi kopinya” kata Yanti memberikan Agi segelas Kopi hangat
“Zha kamu ngak mau ngopi?” tawar Yanti
“ngak suka ngopi saya, masih ada air gelasan itu? Klo’ ada itu aja” jawabku sambil melirik kardus air minum di pojok tenda.
“iya masih banyak tu di dekatnya Lita” tunjuk Yanti
“ini Zha” ucap Lita memberikanku.
Akhirnya aku dan Agi diam mengobrol di dapur sambil menikmati jajan dengan Lita,Puspita, dan Yanti.
~~~
            Disela-sela obralan kami Syifa datang menghampiri, rupanya dia datang untuk mencari Lita,Puspita dan Yanti yang tidak ada di tenda nya.
“Wah, ternyata disini kalian asyik ngemil sambil ngobrol. Pantesan ngak balik-balik ke tenda. Kapan kalian mau tidur?” tanya Syifa.
“ntar dulu belum ngantuk ini” jawab puspita
Woy! apa kalian rumpiin disitu” kata Nita tiba-tiba datang mengintip dari pintu tenda
“eh, Nita sini masuk mau jajan?” tawar Yanti sambil menyodorkan kripik yang sedang kami makan.
“oh ngak usah dh, oh iya ngak kalian pengen ke toilet?” tanya Nita
“hmm... iya sih tapi ngak ada WC disekitar sini” balas Puspita
“di pancuran mata air itu aja” kata Agi
“eh, gelap disana, udah lebih jam 12 juga ini” kata Yanti takut
“banyak-banyak sih temennya, bawa senter juga” ucap Agi membalas Yanti
“iya dah ayo wee, klo’ kemaleman nanti tambah ngak berani kita” ajak Lita
“Agi sama Ezha juga ikut temenin kita, ngak berani sih kita cewek aja. Nanti kalo’ ada apa-apa” kata Syifa khawatir
“emangnya bisa diandalkan dua cowok ini” ucap Puspita meremehkan
“ ah tenang aja.
Klo’ ada hantu atau apapun itu kita pasti akan melindungi kalian” kata Agi dengan bersemangat
“hmm... iya” balasku menganggguk
~~~
“woy... berani kalian disitu??! mau saya temenin disana” teriak Agi
“Diam aja kamu disana Agi jangan ngintip!
Awas kalo berani mendekat! Dul jaga anak yang dua itu!” teriak Puspita
“Dul, kenapa kamu ikut tadi” ucap Agi kecewa
“Yaa, saya disuruh ikut sama mereka tadi” balas Abdullah
            Kami bertiga menunggu cukup lama sambil berbincang-bincang melihat daerah perbukitan yang terlihat gelap dan menyeramkan. Jika dilihat-lihat dibawah perbukitan tempat kami ini terlihat seperti hutan yang dipenuhi pohon-pohon besar. Selain itu melihat ke bawah tebing yang curam ini membuuatku sedikit merinding. Hawa dingin pengunungan dan sunyinya suasana tengah malam cukup mencekam dan menakutkan.
“serem sekali rupanya di bawah situ ya” kata Yanti melihat tebing yang berada didepannya
“wee... hati-hati wee… nanti jatuh kalian kesana ” kata Nita
“cepetan balik ayo merinding saya disini” kata Yanti ketakutan
“Lita hati-hati jangan terlalu liat-liat kebawah sana, nanti jatuh” ucap Syifa khawatir
Mereka kemudian kembali menuju kami bertiga. Puspita yang berada paling depan langsung berlari menuju kami.
“Brrr... dingin sekali airnya disana kayak air es” kata Puspita terlihat kedinginan
“kamu cuci muka disana ?” tanya Abdullah melihat wajah Puspita.
“Iya tadi Yanti bawa sabun, cewek itu harus rajin cuci muka biar kelihatan tetep cantik” jawab Puspita.
“iya dah ayo balik” ajak Abdullah memimpin paling depan
Dari belakang kulihat semua menunjukkan ekpresi kedinginan. Aku dan Agi berada di barisan paling belakang menyusuri tebing. Dan tiba-tiba saja hal yang mengejutkan terjadi tepat di depanku. Lita yang sedang berbincang-bincang dengan Syifa sambil melihat-lihat ke bawah tebing tiba-tiba terpeleset dan jatuh kearah tebing yang terlihat curam. Aku dan Agi yang berada di belakangnya kaget, Syifa yang juga langsung berteriak membuat yang lain menoleh kearah Syifa. Entah apa yang aku pikirkan saat itu,  mungkin karena takut atau kaget, tubuhku tiba tiba refleks melompat untuk berusaha meraihnya. Dan untungnya aku berhasil meraih tangan lita dan berpegangan pada Rumput yang cukup panjang di tebing itu. Kurasakan tangan Lita gemetar ketakutan kulihat keatas teman – teman yang lain mulai panik. Jarak antara kami cukup jauh dan kurasa sulit bagi mereka untuk menolongku tanpa tali.
“ Zha... gimana keadaanmu disana?” Tanya Abdullah berteriak dari atas tebing.
Kulihat Lita masih ketakutan tangannya tak berhenti bergetar memegang tanganku. “ Ya! Sudah ngakpapa, coba carikan tali atau kayu yang panjang, dia curam sekali sama licin rumputnya ini susah naiknya” Jawabku
“Iya tunggu dulu” teriak Abdullah kemudian berlari mencari sesuatu yang dapat menolong kami berdua.
Kuposisikan diriku untuk duduk sambil menarik Lita agar bisa bangun, beruntung tanah di sekitar sini sedikit datar. Kulihat kembali keatas tebing teman-teman masih panik. Kulihat Lita masih merinding ketakutan nafasnya terengah-engah seperti baru menangis. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan saat ini tangan ku juga bergetar ketakutan, sekali lagi kulihat keatas teman –teman yang lain sepertinya juga sangat panik dan ketakutan. Tiba- tiba Lita memegang tanganku dengan erat kulihat kearahnya  dan tak tau apa yang harus kuucapkan. Dalam hati pikiran ku bergejolak berusaha mencari solusi dari situasi ini. Seharusnya disaat seperti ini aku harus menyemangatinya atau setidaknya mengatakan sesuatu seperti “tenang aja, jangan takut, sekarang sudah aman, atau aku akan melindungimu ”. Tapi tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutku.
“Li, Lita...” sayangnya hanya namanya yang bisa kusebut dengan gugup sambil berusaha menutupi ketakutanku. Dasar pecundang kataku dalam hati menunduk malu. Lita berusaha menatap wajahku, betapa malunya diriku jika dia tau aku juga ketakutan, Tetapi, tiba-tiba dia mengucapkan sesuatu dengan suara yang lirih ”Makasih Zha” kata Lita memecahkan keheningan dan memberikan aku kekuatan untuk menatap wajahnya. Aku langsung berusaha untuk tersenyum dan tanpa kusadari mulutku berucap ”tenang aja, sekarang sudah aman”.
                Sekitar lima menit kemudian Abdullah datang membawa Tali dan mengulurkannya pada kami. Aku mempersilahkan Lita untuk mendaki terlebih dahulu dan aku mengikutinya dari belakang. Kulihat abdullah dan teman-teman yang lain menunggu kami diatas dengan perasaan lega. Akan tetapi, karena rumput yang licin tiba-tiba Lita terjatuh, dan beruntung aku masih bisa menahannya. Kaget melihat kami teman-teman langsung berteriak. Tapi melihat lita dan aku baik-baik saja mereka lega. Lita melanjutkan mendaki dengan perlahan dan sesekali Lita melihat kebelakang, aku menyuruhnya untuk fokus melihat ke depan dan menutupi pandangannya kebelakang.
            Saat sudah sekita lima meter akan sampai, tiba-tiba saja saat Lita menoleh kebelakang ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tangannya melepas tali yang kami pegang, aku yang berusaha untuk menahannya juga jatuh terpeleset dan penganganku pada tali tersebut terlepas. Kulihat wajah Lita sangat ketakutan melihat kebawah. Aku yang saat itu menahan Lita tidak mampu mencari tempat untuk pegangan. Kudengar suara teriakan dari teman-teman diatas semakin heboh. Saat itu kepalaku terasa menghantam sesuatu yang keras, aku merasa pusing dan mulai kehilangan kesadaran. Tubuhku menggelinding dengan keras ke kebawah hingga akhirnya terhenti. Aku merasa sakit di seluruh badanku terutama bagian kepalaku. Kurasa aku masih belum pingsan jika bisa merasakan sakit ini. Saat ku coba membuka mataku aku terkejut dengan apa yang berada di depanku. Kulihat tubuhnya yang besar diselimuti warna hitam dan bagian kepalanya yang putih seperti tertutupi  “helm”. Kulihat Lita di dekati dua makhluk itu, dan tiba-tiba makhluk itu berbalik kearahku. Pandanganku sudah mulai buram dan kurasakan kaki dan tanganku diangkat. Dengan masih samar-samar kulihat sesuatu yang cukup besar dan nampak seperti sebuah bangunan. Dan sebelum aku mengetahui apa yang akan dilakukan makhluk ini padaku didalam sana aku sudah tidak sadarkan diri.

“Zha... Ezha.. Zhaa...! bangun! Bangun Zha !” Kudengar sebuah suara  memanggil manggil namaku. Kurasakan sakit diseluruh tubuhku. Aku baru saja bermimpi aneh, oh iya aku ingat suara ribut ini adalah suara teman-temanku. Saat ini aku sedang berkemah disebuah pengunungan dengan teman-teman OSIS. Sepertinya sudah pagi pikirku, tapi saat perlahan ku membuka mata kulihat aku sedang tidak berada di tenda. Dengan terkejut aku langsung bangun dan duduk. “aduh, argghh…” kataku merasakan sakit di kepalaku. Kulihat Pak Ahmad, Abdullah, dan Dedi berada di depanku, sambil mengusap-usap kepalaku yang terasa sakit sekali. Kurasakan benjolan di bagian belakang kepalaku. Kulihat teman-teman yang lain juga berada disini sepertinya kejadian tadi bukan mimpi. Kulihat Lita sudah sadar lebih dulu dariku, luka-luka di bagian tubuhku juga sepertinya sudah diobati.
“ Zha minum dulu ini” kata Agi menyerahkan sebotol air minum padaku.
“Gimana keadaanmu sudah baikkan?” tanya Pak Ahmad khawatir
“iya pak” jawabku setelah meneguk air yang di berikan Agi. Kulihat wajah teman-teman yang lain juga khawatir pada kami. Sepertinya Lita juga terlihat baik-baik saja.
“apaan kamu Zha nyelametin cewek tapi kamu malah ikutan jatuh’ kata Wawan meledekku sambil memegang pundakku.
Oh iya! Weee kasih tepuk tangan dulu ke Ezha. Inilah dia penyelamat Lita, sang superhero” kata Ihsan sambil mengangkat tanganku diikuti tepuk tangan dari teman-teman yang lain.
“Iya Zha, untung kamu ngak kenapa-napa kalo’ gitu caramu nyelametin orang tadi bisa-bisa kamu yang jadi korbannya.” kata Pak Ahmad khawatir.
“tapi tadi Ezha lumayan keren lho pak, tiba-tiba dia loncat ke tebing langsung nyelametin Lita. Kalo’ saya yang ada di belakang Lita tadi kayak gitu juga mungkin saya selametin dia.” Kata Abdullah berusaha membelaku.
“Iya Zha,  syukurlah kamu juga selamat.  Ayo kita balik sudah mau pagi ini.” Ajak Dedi mengulurkan tangannya. Bisa kamu jalan ?” kata Dedi membantuku berdiri.
“sini Zha biar saya aja yang gendong, serahkan kesaya Ded. Saya asistennya Ezha” kata Ihsan sambil menaikkan ku di punggunggunya.
“Oh iya udah jam berapa ini? “ tanyaku pada Ihsan
“udah jam dua atau jam tiga mungkin, kita lama temukan jalan buat kebawah tadi.” Jawab Ihsan
“hm… iya, terima kasih ya” kataku sambil berpegang erat di punggung Ihsan yang besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 2 “Sebuah Keanehan Yang Mulai Terlihat”

             Kurasakan sakit diseluruh tubuhku, dengan setengah tersadar kucoba membuka mataku. Dan saat itu kulihat sosok berwarna hitam t...