Dimalam
yang dingin diterangi indahnya sinar bulan purnama, aku berbaring menatap
langit. Dengan dinginnya udara di pegunungan kami menghangatkan diri dalam
letupan api unggun yang membara. Malam ini aku dan teman-teman OSIS berkemah di
sebuah pegunungan dalam rangka Pembubaran anggota OSIS. Diiringi dengan petikan
gitar dan lantunan lagu yang mereka nyanyikan bersama menambah indahnya malam
ini. Aku melihat wajah mereka yang penuh kebahagiaan, tertawa bersama sambil
menikmati kehangatan dari api unggun yang kami buat.
“Hey... Ezha sendirian aja kamu disini,kenapa
ngak gabung sama temen-temen itu?” sapa Abdullah mendekatiku lalu duduk disampingku.
Aku bangun dan duduk melihat teman-teman yang lain sedang asyik
bernyanyi dan mengobrol. “ngak terasa ya kita
sudah kelas 3? Padahal
baru kemarin rasanya saya jadi
anggota OSIS”
“iya Zha, padahal kita sudah akrab
sekali. OSIS ini sudah saya anggap
kayak keluarga saya, nyaman sekali rasanya saat kita bersama ngumpul kayak gini”
“Iya
Dul tapi,
sekarang kita sudah bukan anggota OSIS lagi. Walaupun kita bukan anggota OSIS lagi
semoga kita bisa tetep ngumpul,bercanda kayak gini ya.”
“Iya Zha,
semoga aja bisa terus akrab kita semua. Oh iya udah waktunya makan ini ayo bantu
yang cewek didapur mungkin sudah selesai masaknya.” ajak
Abdullah padaku.
Kami
berdua berdiri dan pergi menuju tenda dapur untuk membantu menyiapkan makan
malam. Disana aku melihat Syifa,
Lita
dan Puspita sedang menyiapkan sayur dan tempe yang baru selesai dimasaknya pada
sebuah piring. Sedangkan Wati dan Yanti menyiapkan teh hangat pada sebuah teko.
Nita juga terlihat sedang sibuk mengelap
piring dan gelas.
“Gimana ini udah selesai?” tanya
Abdullah
“Ini Dul, bawa piringnya dulu bagi dah
sama Ezha” ujar Nita menyerahkan piring yang
sudah dibersih pada Abdullah.
“sudah pas piringnya ini?” tanyaku menghitung piring yang diserahkan Abdullah.
“Mmm...
coba hitung lagi kayaknya pas 30 tadi” kata Nita bingung
“iya pas udah ini, langsung angkut dah Zha” kata Abdullah
meyakinkan setelah ia menghitung ulang.
Aku
dan Abdullah pergi membawa piring menuju tempat teman-teman berkumpul. Disana
mereka terlihat sangat kelaparan menunggu makanan. Teman-teman yang lain
langsung ikut membantu tanpa diberi perintah. Kami bersama-sama menyiapkan
semuanya dan tak lama kemudian semua makanan sudah tersedia ditempat. Kami
duduk saling berhadap-hadapan sambil menunggu Syifa dan puspita menyiapkan air
minum dan teh hangat.
“Tunggu dulu, mungkin ada yang mau di sampaikan Pak guru kita sebelum
makan” ujar Putra kepada semuanya.
“Ayo Pak silahkan” lanjut Abdullah yang duduk di samping Pak Ahmad
“Hemz... baiklah sebelum kita mulai makan mari
kita berdo’a dulu”
kata Pak Ahmad selaku pembina OSIS. Selain pak Ahmad yang ikut pada acara malam ini, juga ada Pak Kiki dan
Pak Rahman yang mendampingi kami.
~~~
Setelah
selesai membereskan bekas makan aku duduk memandang langit bersama teman-teman
sambil menghangatkan diri di sekitar api unggun. Dalam hatiku berkata
“Subhanallah... serunya malam ini”.
“Zha... lihat apa tu? Ada UFO?” tanya
Agi ngawur melihatku tersenyum
sendiri.
“Iya, ada itu dia mau kesini kayaknya”
jawabku bercanda sambil menunjuk
langit.
“Nanti klo’ dia kesini kita ajak dia
nyanyi Zha sambil minum kopi.” Kata Agi
sambil sambil meminum kopi hangatnya yang terlihat sudah dingin. “Oh
iya temenin saya kedapur ayo, kita minta Kopi lagi Zha.”
Ajak Agi setelah menghabiskan kopinya dalam satu tegukan.
“Sendirian aja Agi, sana saya ngak mau
ngopi.” Jawabku malas sambil
masih menatap langit.
“Eee.. ikut ayo sekalian kita minta jajan
nanti di cewek-cewek itu, klo’ kamu yang minta pasti dikasih nanti.” Paksa Agi
menarik lenganku.
“iya dah, iya…” jawabku terpaksa
Kami
berdua pergi ke tenda dapur disana terdengar
suara Lita, Puspita dan Yanti mengobrol sambil merapikan
piring dan gelas yang kami gunakan untuk makan malam tadi.
“permisi” ucap kami berdua masuk
“mau kenapa kalian ?” tanya Yanti dengan
suara galak melihat kami berdua.
“mau minta Kopi” jawab Agi dengan cepat sambil menunjukkan gelas kosong yang dibawanya.
“saya cuma temenin Agi” jawabku melihat Yanti memelototiku.
“Oh iya Ezha mau minta jajan katanya
tadi, tapi dia malu.” ujar Agi melirik jajan yang sedang dimakan Lita dan
Puspita.
“kalo’ Agi mau minta aja saya udah
kenyang” balasku singkat.
“kan katanya kamu kesini mau minta jajan
tadi Zha.” kata Agi
memojokkanku
“Oh ini Zha ambil aja” kata Lita
menawarkan jajannya padaku
“Ayo
ambil Zha, jangan malu-malu. kalo’ malu biar saya aja
yang ambilkan” ujar Agi sambil mengambil jajan dari Lita.
“Ehh... sebenarnya kamu yang mau minta jajan
itu kan” kata Yanti melirik ke
Agi.
“Iya dah, Agi ini Ezha yang dikasih dia
yang ambil” kata Puspita menarik kembali
jajan yang diambil Agi dan menawarkannya padaku “Ini Zha
ambil aja, ngak usah malu-malu”
Aku terdiam sejenak dan duduk mengambil jajan yang ditawarkan Puspita “Oh iya dah, makasih”
“Ini Gi kopinya” kata Yanti memberikan
Agi segelas Kopi hangat
“Zha kamu ngak mau ngopi?” tawar Yanti
“ngak suka ngopi saya, masih ada air
gelasan itu? Klo’ ada itu aja” jawabku
sambil melirik kardus air minum di pojok tenda.
“iya masih banyak tu di dekatnya Lita”
tunjuk Yanti
“ini Zha” ucap Lita memberikanku.
Akhirnya aku dan Agi
diam mengobrol di dapur sambil menikmati jajan dengan Lita,Puspita, dan Yanti.
~~~
Disela-sela
obralan kami Syifa datang menghampiri,
rupanya dia datang untuk
mencari Lita,Puspita dan Yanti yang tidak
ada di tenda nya.
“Wah, ternyata disini kalian asyik ngemil sambil ngobrol.
Pantesan ngak balik-balik ke tenda.
Kapan kalian mau tidur?” tanya Syifa.
“ntar dulu belum ngantuk ini” jawab
puspita
“Woy!
apa kalian rumpiin disitu” kata Nita tiba-tiba datang mengintip dari pintu tenda
“eh, Nita sini masuk mau jajan?” tawar
Yanti sambil menyodorkan
kripik yang sedang kami makan.
“oh ngak usah dh, oh iya ngak kalian pengen ke toilet?”
tanya Nita
“hmm... iya sih tapi ngak ada WC
disekitar sini” balas Puspita
“di pancuran mata air itu aja” kata Agi
“eh, gelap disana, udah lebih jam 12 juga
ini” kata Yanti
takut
“banyak-banyak sih temennya, bawa senter
juga” ucap Agi membalas Yanti
“iya dah ayo wee, klo’ kemaleman nanti
tambah ngak berani kita”
ajak Lita
“Agi sama Ezha juga ikut temenin kita,
ngak berani sih kita cewek aja. Nanti kalo’ ada apa-apa” kata Syifa khawatir
“emangnya bisa diandalkan dua cowok ini”
ucap Puspita meremehkan
“ ah tenang aja. Klo’ ada hantu atau apapun itu kita pasti akan melindungi kalian” kata Agi dengan bersemangat
“ ah tenang aja. Klo’ ada hantu atau apapun itu kita pasti akan melindungi kalian” kata Agi dengan bersemangat
“hmm... iya” balasku menganggguk
~~~
“woy... berani kalian disitu??! mau saya temenin
disana” teriak Agi
“Diam aja kamu disana Agi jangan ngintip! Awas kalo berani mendekat! Dul jaga anak yang dua itu!” teriak Puspita
“Diam aja kamu disana Agi jangan ngintip! Awas kalo berani mendekat! Dul jaga anak yang dua itu!” teriak Puspita
“Dul, kenapa kamu ikut tadi” ucap Agi
kecewa
“Yaa,
saya disuruh ikut sama mereka tadi” balas Abdullah
Kami
bertiga menunggu cukup lama sambil berbincang-bincang melihat daerah perbukitan
yang terlihat gelap dan
menyeramkan. Jika dilihat-lihat dibawah perbukitan tempat kami ini terlihat
seperti hutan yang dipenuhi
pohon-pohon besar. Selain itu melihat ke bawah tebing yang curam ini membuuatku
sedikit merinding. Hawa dingin pengunungan dan sunyinya suasana tengah malam
cukup mencekam dan menakutkan.
“serem sekali rupanya di bawah situ ya”
kata Yanti melihat tebing yang berada didepannya
“wee... hati-hati wee… nanti jatuh kalian kesana ” kata Nita
“cepetan balik ayo merinding saya
disini” kata Yanti ketakutan
“Lita hati-hati jangan terlalu liat-liat
kebawah sana, nanti jatuh” ucap Syifa khawatir
Mereka kemudian kembali
menuju kami bertiga. Puspita yang berada paling depan langsung berlari menuju
kami.
“Brrr... dingin sekali airnya disana kayak air es” kata Puspita terlihat kedinginan
“Brrr... dingin sekali airnya disana kayak air es” kata Puspita terlihat kedinginan
“kamu cuci muka disana ?” tanya Abdullah melihat wajah Puspita.
“Iya tadi Yanti bawa sabun, cewek itu harus rajin cuci muka biar kelihatan tetep
cantik” jawab Puspita.
“iya dah ayo balik” ajak Abdullah
memimpin paling depan
Dari
belakang kulihat semua menunjukkan ekpresi kedinginan. Aku dan Agi berada di barisan paling belakang
menyusuri tebing. Dan tiba-tiba saja hal yang mengejutkan
terjadi tepat di depanku. Lita yang sedang berbincang-bincang dengan Syifa
sambil melihat-lihat ke bawah tebing tiba-tiba terpeleset dan jatuh kearah
tebing yang terlihat curam. Aku dan Agi yang berada di belakangnya kaget, Syifa
yang juga langsung
berteriak membuat yang lain menoleh kearah Syifa. Entah apa yang aku pikirkan saat itu, mungkin karena takut atau kaget, tubuhku tiba
tiba refleks melompat untuk
berusaha meraihnya. Dan untungnya aku berhasil meraih tangan lita dan berpegangan
pada Rumput yang cukup panjang di tebing itu. Kurasakan tangan Lita gemetar
ketakutan kulihat keatas teman – teman yang lain mulai panik. Jarak antara kami cukup jauh dan
kurasa sulit bagi mereka untuk menolongku tanpa tali.
“ Zha... gimana keadaanmu disana?” Tanya
Abdullah berteriak dari atas tebing.
Kulihat Lita masih ketakutan tangannya
tak berhenti bergetar memegang tanganku. “ Ya! Sudah ngakpapa,
coba carikan tali atau kayu yang panjang, dia curam sekali sama licin rumputnya
ini susah naiknya” Jawabku
“Iya tunggu dulu” teriak Abdullah kemudian berlari mencari sesuatu yang dapat menolong
kami berdua.
Kuposisikan diriku
untuk duduk sambil menarik Lita agar bisa bangun, beruntung tanah di sekitar
sini sedikit datar. Kulihat kembali
keatas tebing teman-teman masih panik. Kulihat Lita
masih merinding ketakutan nafasnya
terengah-engah
seperti baru menangis. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan saat ini tangan
ku juga bergetar ketakutan, sekali lagi kulihat keatas teman –teman yang lain
sepertinya juga sangat panik dan ketakutan. Tiba- tiba Lita memegang tanganku
dengan erat kulihat kearahnya dan tak
tau apa yang harus kuucapkan. Dalam hati
pikiran ku bergejolak berusaha mencari solusi dari situasi ini.
Seharusnya disaat seperti ini aku
harus menyemangatinya atau setidaknya mengatakan
sesuatu seperti “tenang aja, jangan takut, sekarang sudah
aman, atau aku akan melindungimu ”.
Tapi tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutku.
“Li, Lita...” sayangnya hanya namanya
yang bisa kusebut dengan gugup sambil
berusaha menutupi ketakutanku. Dasar pecundang kataku dalam hati menunduk malu. Lita berusaha menatap wajahku, betapa
malunya diriku jika dia tau aku juga ketakutan, Tetapi, tiba-tiba dia
mengucapkan sesuatu dengan suara yang lirih ”Makasih Zha” kata Lita memecahkan keheningan dan memberikan aku kekuatan untuk menatap wajahnya.
Aku langsung berusaha untuk tersenyum dan tanpa kusadari mulutku berucap
”tenang aja, sekarang sudah aman”.
Sekitar
lima menit kemudian Abdullah datang membawa Tali dan mengulurkannya pada kami. Aku
mempersilahkan Lita untuk mendaki terlebih dahulu dan aku mengikutinya dari
belakang. Kulihat abdullah dan teman-teman yang lain menunggu kami diatas
dengan perasaan lega. Akan tetapi, karena rumput yang licin tiba-tiba Lita
terjatuh, dan beruntung aku masih bisa menahannya. Kaget
melihat kami teman-teman langsung berteriak. Tapi
melihat lita dan aku
baik-baik saja mereka lega. Lita melanjutkan mendaki dengan perlahan dan
sesekali Lita melihat kebelakang, aku menyuruhnya untuk fokus melihat ke depan
dan menutupi pandangannya kebelakang.
Saat
sudah sekita lima meter akan sampai, tiba-tiba saja saat Lita menoleh
kebelakang ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tangannya melepas tali yang
kami pegang, aku yang berusaha untuk menahannya juga jatuh terpeleset dan penganganku pada
tali tersebut terlepas. Kulihat wajah Lita sangat ketakutan melihat kebawah.
Aku yang saat itu menahan Lita tidak mampu mencari tempat untuk pegangan.
Kudengar suara teriakan dari teman-teman diatas semakin heboh. Saat itu kepalaku terasa menghantam
sesuatu yang keras, aku merasa
pusing dan mulai kehilangan kesadaran. Tubuhku menggelinding dengan keras ke
kebawah hingga akhirnya terhenti. Aku merasa sakit di seluruh badanku terutama
bagian kepalaku. Kurasa aku masih belum pingsan jika bisa merasakan sakit ini.
Saat ku coba membuka mataku aku terkejut dengan apa yang berada di depanku.
Kulihat tubuhnya yang besar
diselimuti warna hitam dan bagian kepalanya yang putih seperti tertutupi “helm”. Kulihat Lita di dekati dua makhluk itu, dan tiba-tiba makhluk
itu berbalik kearahku. Pandanganku
sudah mulai buram dan kurasakan kaki dan tanganku diangkat. Dengan masih samar-samar kulihat sesuatu
yang cukup besar dan nampak seperti sebuah bangunan. Dan sebelum aku mengetahui
apa yang akan dilakukan makhluk ini padaku didalam sana aku sudah tidak
sadarkan diri.
“Zha... Ezha.. Zhaa...! bangun! Bangun
Zha !” Kudengar sebuah suara memanggil
manggil namaku. Kurasakan sakit diseluruh tubuhku. Aku baru saja bermimpi
aneh, oh iya aku ingat suara
ribut ini adalah suara teman-temanku. Saat ini aku sedang berkemah disebuah
pengunungan dengan teman-teman OSIS. Sepertinya sudah pagi pikirku, tapi saat
perlahan ku membuka mata kulihat aku sedang tidak berada di tenda. Dengan
terkejut aku langsung bangun dan duduk. “aduh, argghh…” kataku merasakan sakit di kepalaku.
Kulihat Pak Ahmad, Abdullah, dan Dedi
berada di depanku, sambil mengusap-usap kepalaku yang terasa
sakit sekali. Kurasakan benjolan di
bagian belakang kepalaku. Kulihat teman-teman yang lain juga berada disini
sepertinya kejadian tadi bukan mimpi. Kulihat Lita sudah sadar lebih dulu
dariku, luka-luka
di bagian tubuhku juga sepertinya
sudah diobati.
“ Zha minum dulu ini” kata Agi
menyerahkan sebotol air minum padaku.
“Gimana keadaanmu sudah baikkan?” tanya
Pak Ahmad khawatir
“iya pak” jawabku setelah meneguk air
yang di berikan Agi. Kulihat wajah teman-teman yang lain juga khawatir pada
kami. Sepertinya Lita juga terlihat baik-baik saja.
“apaan kamu Zha nyelametin cewek tapi
kamu malah ikutan jatuh’ kata Wawan meledekku sambil memegang pundakku.
“Oh
iya! Weee kasih tepuk tangan dulu ke Ezha. Inilah dia
penyelamat Lita, sang superhero”
kata Ihsan sambil mengangkat tanganku
diikuti tepuk tangan dari teman-teman yang lain.
“Iya Zha, untung kamu ngak kenapa-napa kalo’ gitu caramu
nyelametin orang tadi bisa-bisa kamu yang jadi korbannya.” kata Pak Ahmad khawatir.
“tapi tadi Ezha lumayan keren lho pak, tiba-tiba dia loncat ke tebing
langsung nyelametin Lita. Kalo’ saya yang ada di belakang Lita tadi kayak gitu juga mungkin
saya selametin dia.” Kata Abdullah
berusaha membelaku.
“Iya Zha, syukurlah kamu juga selamat.
Ayo
kita balik sudah mau pagi ini.” Ajak Dedi mengulurkan tangannya.
“Bisa kamu jalan ?” kata
Dedi membantuku berdiri.
“sini Zha biar saya aja
yang gendong, serahkan kesaya Ded.
Saya asistennya Ezha” kata Ihsan sambil menaikkan ku di punggunggunya.
“Oh iya udah jam berapa ini? “ tanyaku
pada Ihsan
“udah jam dua atau jam tiga mungkin, kita
lama temukan jalan buat kebawah tadi.” Jawab Ihsan
“hm… iya, terima kasih ya” kataku sambil berpegang
erat di punggung Ihsan yang besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar