Rabu, 02 November 2016

Chapter 1



Dimalam yang dingin diterangi indahnya sinar bulan purnama, aku berbaring menatap langit. Dengan dinginnya udara di pegunungan kami menghangatkan diri dalam letupan api unggun yang membara. Malam ini aku dan teman-teman OSIS berkemah di sebuah pegunungan dalam rangka Pembubaran anggota OSIS. Diiringi dengan petikan gitar dan lantunan lagu yang mereka nyanyikan bersama menambah indahnya malam ini. Aku melihat wajah mereka yang penuh kebahagiaan, tertawa bersama sambil menikmati kehangatan dari api unggun yang kami buat.
“Hey... Ezha sendirian aja kamu disini,kenapa ngak gabung sama temen-temen itu?” sapa Abdullah lalu duduk didekatku.
Aku bangun dan duduk didekat Abdullah sambil melihat teman-teman yang lain. “ngak terasa ya kita sudah kelas 3? Cepet sekali ya padahal baru kemarin rasanya saya ikut OSIS”
“iya Zha, padahal kita sudah akrab sekali. Saya juga menganggap OSIS ini sudah kayak keluarga saya, nyaman sekali rasanya saat kita bersama”
“Iya tapi sekarang kita sudah bukan anggota OSIS lagi, OSIS yang barukan sudah dilantik kemarin. Tapi walaupun kita bukan anggota OSIS lagi semoga kita bisa tetep ngumpul,bercanda kayak gini.”
“Iya ya, semoga aja bisa terus akrab kita semua. Oh iya Zha udah waktunya makan ini ayo bantu yang cewek didapur mungkin sudah selesai masaknya.” ajak Abdullah padaku.
            Kami berdua berdiri dan pergi menuju tenda dapur untuk membantu menyiapkan makan malam. Disana aku melihat Syifa,Lita dan Puspita yang sedang menyiapkan sayur dan tempe yang baru selesai dimasaknya pada sebuah piring. Sedangkan Wati dan Yanti menyiapkan teh hangat pada sebuah teko. Nita juga terlihat sedang sibuk menyiapkan piring dan gelas.
“Gimana ini udah selesai?” tanya Abdullah
“Ini Dul, bawa piringnya dulu bagi dah sama Ezha” ujar Nita menyerahkan piring pada Abdullah.
“sudah pas piringnya ini?” tanyaku
“hmm... coba hitung lagi kayaknya pas 30 tadi” kata Nita bingung
“iya pas udah ini, langsung dah kita bawa Zha” kata Abdullah meyakinkan setelah ia menghitung ulang.
            Aku dan Abdullah pergi membawa piring menuju tempat teman-teman berkumpul. Disana mereka terlihat sangat kelaparan menunggu makanan. Teman-teman yang lain langsung ikut membantu tanpa diberi perintah. Kami bersama-sama menyiapkan semuanya dan tak lama kemudian semua makanan sudah tersedia ditempat. Kami duduk saling berhadap-hadapan sambil menunggu Syifa dan puspita menyiapkan air minum dan teh hangat.
“Tunggu dulu, mungkin ada yang mau di ucapkan Pak guru kita sebelum makan, atau kata sambutan gitu” ujar Putra kepada semuanya.
“Hemz.. baiklah sebelum kita mulai makan mari kita berdo’a menurut agama dan kenyakinan masing-masing” kata Pak Ahmad selaku pembina OSIS. Selain pak Ahmad yang ikut pada acara ini juga ada Pak Kiki dan Pak Rahman.
~~~
            Setelah selesai membereskan bekas makan aku duduk memandang langit bersama teman-teman sambil menghangatkan diri di sekitar api unggun. Dalam hatiku berkata “Subhanallah... serunya malam ini”.
“Zha... lihat apa tu? Ada UFO?” tanya Agi ngawur.
“Iya, ada itu dia mau kesini kayaknya” jawabku bercanda
“Nanti klo’ dia kesini kita ajak dia nyanyi Zha sambil minum kopi. Oh iya temenin saya kedapur ayo, kita minta Kopi.” Ajak Agi
“Sendirian aja Agi, sana saya ngak mau ngopi.” Jawabku
“Eee.. ikut ayo sekalian kita minta jajan nanti di cewek-cewek itu, klo’ kamu yang minta pasti dikasih nanti.” Paksa Agi menarik lenganku.
“iya dah” jawabku terpaksa
            Kami berdua pergi ke tenda dapur disana aku melihat Lita, Puspita dan Yanti mengobrol sambil merapikan piring dan gelas yang kami gunakan untuk makan malam tadi.
“permisi” ucap kami berdua masuk
“mau kenapa kalian ?” tanya Yanti dengan suara membentak
“mau minta Kopi” jawab Agi dengan cepat
“saya cuma temenin Agi” kataku
“Oh iya Ezha mau minta jajan katanya tadi, tapi dia malu.” ujar Agi melirik jajan yang sedang dimakan Lita dan Puspita
“kalo’ Agi mau minta aja saya udah kenyang” balasku
“kan katanya kamu kesini mau minta jajan tadi.” kata Agi memojokkanku
“Oh ini Zha ambil aja” kata Lita menawarkan jajannya padaku
“Ambil Zha, jangan malu-malu. kalo’ malu biar saya aja yang ambilkan” ujar Agi sambil mengambil jajan dari Lita.
“Ehh... sebenarnya Agi yang mau minta jajan itu” kata Yanti melirik ke Agi
“Iya dah, Agi ini Ezha yang dikasih dia yang ambil” kata Puspita menarik jajan bungkus jajan dan menawarkannya padaku “Ini Zha ambil aja, ngak usah malu-malu”
Aku terdiam sejenak “Oh iya dah, makasih” ucapkan duduk mengambil jajan yang di tawakan oleh Puspita.
“Ini Gi kopinya” kata Yanti memberikan Agi segelas Kopi hangat
“Zha kamu ngak mau ngopi?” tawar Yanti
“hmm... ngak suka ngopi saya, masih ada air gelasan itu? Klo’ ada itu aja”
“iya masih banyak tu di dekatnya Lita” tunjuk Yanti
“ini Zha” ucap Lita memberikanku.
Akhirnya aku dan Agi diam mengobrol di dapur sambil menikmati jajan dengan Lita,Puspita, dan Yanti.
~~~
            Disela-sela obralan kami Syifa datang menghampiri kami. Rupanya dia datang untuk mencari Lita,Puspita dan Yanti.
“Wah, ternyata disini kalian. Pantesan ngak ada di tenda. Kapan kalian mau tidur?” tanya Syifa.
“ntar dulu belum ngantuk ini” jawab puspita
“Hei, apa kalian rumpiin disitu” kata Nita tiba-tiba mengintip dari pintu tenda
“eh, Nita sini masuk mau jajan?” tawar Yanti sambil menyodongkan kripik yang sedang kami makan.
“oh ngak usah dh, oh iya ngak kalian kepengin kencing dingin kayak gini?” tanya Nita
“hmm... iya sih tapi ngak ada WC disekitar sini” balas Puspita
“di pancuran mata air itu aja” kata Agi
“eh, gelap disana udah lebih jam 12 juga ini” kata Yuli takut
“banyak-banyak sih temennya, bawa senter juga” ucap Agi membalas Yuli
“iya dah ayo,klo’ kemaleman nanti tambah ngak berani” ajak Lita
“Agi sama Ezha juga ikut temenin kita, ngak berani sih kita cewek aja. Nanti kalo’ ada apa-apa” kata Syifa khawatir
“emangnya bisa diandalkan dua cowok ini” ucap Puspita meremehkan
“ ah tenang aja. Kita pasti akan melindungi kalian” kata Agi dengan bersemangat
“hmm... iya” balasku menganggguk
~~~
“woy... berani kalian disitu mau saya temenin disana” teriak Agi
“Diam aja kamu disana Agi jangan ngintip! Dul jaga anak yang dua itu!” teriak Puspita
“Dul, kenapa kamu ikut tadi” ucap Agi kecewa
“Ya, saya disuruh ikut sama mereka tadi” balas Abdullah
            Kami bertiga menunggu cukup lama sambil berbincang-bincang melihat daerah perbukitan yang terlihat menyeramkan. Jika dilihat-lihat dibawah perbukitan tempat kami ini terlihat seperti hutan yang penuhi pohon-pohon yang cukup besar. Selain itu melihat ke bawah tebing yang curam ini membuuatku sedikit merinding. Hawa dingin pengunungan dan sunyinya suasana tengah malam cukup mencekam dan menakutkan.
“serem sekali rupanya di bawah situ ya” kata Yanti melihat tebing yang berada didepannya
“wee... hati-hati nanti jatuh kesana bahasa” kata Nita
“cepetan balik ayo merinding saya disini” kata Yanti ketakutan
“Lita hati-hati jangan terlalu liat-liat kebawah sana, nanti jatuh” ucap Syifa khawatir
Mereka kemudian kembali menuju kami bertiga. Puspita yang berada paling depan langsung berlari menuju kami.
“Brrr... dingin sekali airnya disana kayak air es” kata Puspita terlihat kedinginan
“kamu cuci muka disana ?” tanya Abdullah
“Iya tadi Yanti bawa sabun” jawab Puspita.
“iya dah ayo balik” ajak Abdullah memimpin paling depan
Kulihat yang lain juga menunjukkan ekpresi kedinginan. Dan tiba-tiba saja hal yang mengejutkan terjadi tepat di depanku. Lita yang sedang berbincang-bincang dengan Syifa sambil melihat-lihat ke bawah tebing tiba-tiba terpeleset dan jatuh kearah tebing yang terlihat curam. Aku yang dan Agi yang berada di belakangnya kaget, Syifa yang juga berada disamping Lita berteriak membuat yang lain langsung menoleh kearah Syifa. Entah apa yang aku pikirkan mungkin karena takut atau kaget, tubuhku tiba tiba melompat untuk berusaha meraihnya. Dan untungnya aku berhasil meraih tangan lita dan berpegangan pada Rumput yang cukup panjang di tebing itu. Kurasakan tangan Lita gemetar ketakutan kulihat keatas teman – teman yang lain panik. Jarak antara kami cukup jauh dan kurasa sulit bagi mereka untuk menolongku tanpa tali.
“ Zha... gimana keadaanmu disana?” Tanya Abdullah berteriak dari atas
Kulihat Lita masih ketakutan tangannya tak berhenti bergetar memegang tanganku. “ Ya! ngakpapa sudah coba carikan tali atau kayu yang panjang, dia curam sekali sama licin rumputnya ini susah naiknya” Jawabku
“Iya tunggu dulu” teriak Abdullah
Kuposisikan diriku untuk duduk sambil menarik Lita agar bisa bangun, beruntung tanah di sekitar sini sedikit datar. Kulihat Lita masih merinding ketakutan nafasnya seperti baru menangis. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan saat ini tangan ku juga bergetar ketakutan, sekali lagi kulihat keatas teman –teman yang lain sepertinya juga sangat panik dan ketakutan. Tiba- tiba Lita memegang tanganku dengan erat kulihat kearahnya  dan tak tau apa yang harus kuucapkan. Seharusnya disaat seperti ini aku menyemangatinya atau bilang “tenang aja, sekarang sudah aman”. Tapi tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutku.
“Li, Lita...” sayangnya hanya namanya yang dapat kusebut dengan gugup sambil berusaha menutupi ketakutanku. Dasar pecundang kataku dalam hati. Lita melihat kewajahku yang sedang tertunduk, betapa malunya diriku jika dia tau aku juga ketakutan, Tapi, tiba-tiba dia mengucapkan sesuatu dengan suara yang lirih ”Terima Kasih” kata Lita memecahkan keheningan. Aku langsung melihat kewajahnya dan berusaha untuk tersenyum dan tanpa kusadari aku mengatakan sesuatu ”tenang aja, sekarang sudah aman”.
                Sekitar lima menit kemudian Abdullah datang membawa Tali dan mengulukannya pada kami. Aku mempersilahkan Lita untuk mendaki terlebih dahulu dan aku mengikutinya dari belakang. Kulihat abdullah dan teman-teman yang lain menunggu kami diatas dengan perasaan lega. Akan tetapi, karena rumput yang licin tiba-tiba Lita terjatuh, dan beruntung aku masih bisa menahannya dengan kaget teman-teman langsung berteriak. Tapi melihat lita baik-baik saja mereka lega. Lita melanjutkan mendaki dengan perlahan dan sesekali Lita melihat kebelakang, aku menyuruhnya untuk fokus melihat ke depan dan menutupi pandangannya kebelakang.
            Saat sudah sekita lima meter akan sampai, tiba-tiba saja saat Lita menoleh kebelakang ia kehilangan keseimbangan dan jatuh tangannya melepas tali yang kami pegang, aku yang berusaha untuk menahannya juga terjatuh dan penganganku pada tali tersebut terlepas. Kulihat wajah Lita sangat ketakutan melihat kebawah. Aku yang saat itu menahan Lita tidak mampu mencari tempat untuk pegangan. Kudengar suara teriakan dari teman-teman diatas. Dan saat itu kepalaku terasa menghantam sesuatu yang keras, aku meras pusing dan mulai kehilangan kesadaran. Tubuhku menggelinding dengan keras ke kebawah hingga akhirnya terhenti. Aku merasa sakit di seluruh badanku terutama bagian kepalaku. Kurasa aku masih belum pingsan jika bisa merasakan sakit ini. Saat ku coba membuka mataku aku terkejut dengan apa yang berada di depanku. Kulihat tubuhnya yang diselimuti warna hitam dan bagian kepalanya yang putih seperti tertutupi oleh “helm”. Kulihat Lita berada di dekat makhluk itu dan tiba-tiba makhluk itu berbalik kearahku. Kulihat sinar putih dari helm itu dan kurasakan tubuhku seperti sedang diangkat seseorang, ternyata dua makhluk seperti itu sedang memegang kaki dan leherku. Dan membawa tubuhku kedalam sesuatu yang cukup besar dan nampak seperti sebuah bangunan. Dan sebelum aku mengetahui apa yang akan dilakukan makhluk ini padaku didalam sana aku sudah tidak sadarkan diri.

“Zha... Ezha.. Zhaa...! bangun! Bangun Zha !” Kudengar sebuah suara  memanggil manggil namaku. Kurasakan sakit diseluruh tubuhku. Kurasa aku baru saja bermimpi aneh oh iya aku ingat suara ribut ini adalah suara teman-temanku. Saat ini aku sedang berkemah disebuah pengunungan dengan teman-teman OSIS. Sepertinya sudah pagi pikirku, tapi saat perlahan ku membuka mata kulihat aku sedang tidak berada di tenda. Dengan terkejut aku langsung bangun dan duduk. “aduh,” kataku merasakan sakit di kepalaku. Kulihat Pak Ahmad, Abdullah, dan Dedi sambil mengusap kepalaku yang terasa sakit. Kurasakan benjolan di bagian belakang kepalaku. Kulihat teman-teman yang lain juga berada disini sepertinya kejadian tadi bukan mimpi. Kulihat Lita sudah sadar lebih dulu dariku, luka di bagian tubuhku sepertinya sudah diobati oleh yang lainnya.
“ Zha minum dulu ini” kata Agi menyerahkan sebotol air minum.
“Gimana keadaanmu sudah baikkan?” tanya Pak Ahmad khawatir
“iya pak” jawabku setelah meneguk air yang di berikan Agi. Kulihat wajah teman-teman yang lain juga khawatir pada kami. Sepertinya Lita juga terlihat baik-baik saja.
“apaan kamu Zha nyelametin cewek tapi kamu malah ikutan jatuh’ kata Wawan meledekku
“mungkin dia Cuma mau dipuji atau di bilang pahlawan nanti sama Lita. Weee kasih tepuk tangan dulu ke Ezha. Inilah dia penyelamat Lita” kata Ihsan sambil mengangkat tanganku.
“Iya Zha, untung kamu ngak kenap-napa kalo’ gitu caramu nyelametin orang tadi bisa-bisa kamu yang jadi korbannya.” kata Pak Ahmad
“tapi tadi Ezha lumayan keren juga pak, tiba-tiba loncat ke tebing langsung nyelametin Lita. Kalo’ saya yang ada di belakang Lita kayak gitu juga mungkin saya selametin dia.” Kata Abdullah membelaku.
“Iya dah,  syukurlah kamu selamat juga ayo kita balik dah ayo. Bisa kamu jalan ?” kata Dedi membantuku berdiri.
“sini Zha biar saya yang gendong, serahkan kesaya. Saya asistennya Ezha” kata Ihsan sambil menaikkan ku di punggunggunya.
“Oh iya udah jam berapa ini? “ tanyaku pada Ihsan
“udah jam dua mungkin, kita lama temukan jalan buat kebawah tadi.” Jawab Ihsan
“hm.. iya terima kasih ya” kataku    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Chapter 2 “Sebuah Keanehan Yang Mulai Terlihat”

             Kurasakan sakit diseluruh tubuhku, dengan setengah tersadar kucoba membuka mataku. Dan saat itu kulihat sosok berwarna hitam t...